
27 September 2008
Menjelang Pulang Kampung

25 September 2008
Persiapan Mudik


Akhirnya Saya mohon pamit dan mohon maaf kepada rekan-rekan karena akan meninggalkan Banda Aceh dari tgl 27 Sept s/d 19 Oktober, dan bila waktu memungkinkan nanti di Surabaya dan Palembang dapat ngeblog lagi. Selamat Pulang Kampung bagi rekans yang tahun ini juga Pulkam dan Mohon dibukakan pintu maaf untuk kami sekeluarga.
20 September 2008
Judulue Opo
Aku mempersiapkan diri untuk meyambut belaian kasih sayang Mu
Kumulai membersihkan jasad ini
Akankah Kau dapat menerimaku ?
Oh ternyata tidak cukup hanya dengan membersihkan jasad ini
Aku mulai merenung, ternyata banyak benang hitam melilit seluruh tubuh ini
Pantas Aku hanya samar samar melihat sekelilingku , tak mendengar seruan Mu
Kepekaanku sebagai insan mulai berkurang
Aku tertunduk pasrah dan serahkan jiwa ini hanya untuk Mu ?
Akankah aku diterima ?
Mohon kritik sobat,
Jangan Takut - Jangan Pernah Menyesal

Waktu terus berjalan, beberapa tahun sudah dilalui berbagai macam suka dan duka telah dijalani sang pemuda tadi. Dengan modal kata bijak "Jangan Takut" segala peluang dan tantangan dihadapinya dengan keyakinan dan keberanian. Dengan sikap mental yang luar biasa akhirnya ia berhasil mengubah nasibnya. Pemuda itu kini menjadi seorang yang sukses.
Namun dalam segala keberhasilannya, ia merasa ada sesuatu yang kurang sempurna dan bingung mengapa tidak dapat memecahkan permasalahan tersebut. Disaat pikirannya kalut dia teringat akan sesepuh desa, bukankah sesepuh desa tsb. masih menyisakan separuh kata bijak lagi yang akan diberikan kepadanya. Maka dia memutuskan untuk berangkat menemui sesepuh desanya, dan ternyata sesepuh desanya telah tiada namun dia telah mempersiapkan memberikan surat wasiat kepadanya. Sesampainya di rumah surat wasiat tsb. dibuka yang bersisi kata bijak Bu Hou Hui yang artinya Jangan Pernah Menyesal, dan setelah membacanya barulah pemuda itu menyadarinya bahwa segala sesuatu yang terjadi jangan pernah disesali tetapi dengan bekal semangat dan ilmu yang tinggi berusaha untuk meyongsong tantangan kedepan.
Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila Anda berfikir bisa, segeralah lakukan.
(Sumber Wisdom success)
19 September 2008
Jempalithan
Dalam hidup kita sering jempalithan, melakukan hal-hal yang tak perlu, sia sia, bukan kebutuhan tetapi hanya untuk kesenangan, gengsi, dan memuaskan nafsu. Kita mengerti kalau tak perlu tetapi tetap saja kita lakukan karena nafsu yang tak tertahankan. Kita kehilangan fokus orientasi hidup, tak peduli lagi, apa dan siapa kita sebelum hidup, untuk apa kita hidup, jadi apa dan mau kemana kita setelah hidup.
Suatu saat sepintas mendengar obrolan singkat tentang hikmah kehidupan dari Emha Ainun Najib di sebuah stasiun radio. Dia bercerita tentang seorang pasien yang datang ke seorang dokter untuk konsultasi penyakitnya. "Apa keluhannya Pak ......?" tanya si dokter
"Begini dok ......... supaya dokter tahu tentang penyakit saya, saya perlu ruangan yang cukup untuk bergerak.... Meja, kursi perlu saya pinggirkan terlebih dahulu, dok ..... Supaya leluasa, dan pak dokter bisa mengamatinya dari pojok sana, "jawabnya.
Mulailah si pasien lompat sana lompat sini, lelah melompat lompat dilanjutkan dengan duduk seperti sedang yoga, tangan merengkuh lutut kepala masuk ke selangkangan, tangan dan kaki ditekuk sedemikian rupa sehinga badan seperti bola dsn kemudian menggelinding kesana kemari. Setelah lelah beraksi, dihampirinya si dokter.
Setelah melakukan tadi ini lho dok, badan saya ini terasa mau patah dan linu semua," keluhnya ke dokter tanpa merasa salah. "Apa sampeyan pemain sirkus atau pemain debus ?" tanya dokter. "bukan dok, saya ini orang biasa saja, cuma ya itu kalau habis bergerak seperti tadi badan saya pegel linu semua," jawabnya masih dengan ekspresi tanpa rasa salah.
Disaat yang lain seorang teman kedatangan tamu seorang manager sebuah bank yang berkeluh kesah minta bantuan. " Begini Mas, saya ada masalah, saya dililit hutang kartu kredit," keluhnya memelas. Lho kenapa bisa begitu ? Sampeyan khan orang bank bukankah seharusnya lebih pintar berhitung tentang cash flow dan likuiditas?" tanya sang teman tidak mengerti. Ya begitulah Mas, saya dan istri terlalu konsumtif dan termakan gengsi, sedikit sedikit nggesek kartu". Gaya hidup tak sesuai dengan gaji .... besar pasak dari pada tiang. Aset sudah habis terjual untuk nglunasi hutang. Rumah, mobil ludes"
Semua ludes, tetapi tungakkan hutang masih besar, tolonglah mas, jawabnya sambil menghela nafas panjang. Teman saya ini heran dan tak habis pikir mendengar keluh kesah tamunya. bagaimana mungkin tamunya dapat hidup seperti itu. Punya banyak kartu kredit dari banyak bank dengan limit gold card dan semuanya overlimit. Belum lagi hutang lainnya.
Disaat saat yang lain mungkin sering kita lakukan saat berbelanja di mall. barang kebutuhan yang seharusnya dibeli, mungkin hanya pakaian pesanan sang suami/istri, tetapi apa lacur ternyata diambil pula barang barang yang lain yang tidak perlu, yang bukan merupakan kebutuhan dan harganya jauh lebih mahal dari barang yang seharusnya dibeli.
Dalam kehidupan ini tampaknya kita serinh bertindak seperti pasien dokter tersebut. Bergerak ngak karuan, melakukan hal hal yang tidak perlu, sia sia bukan kebutuhan tetapi hanya untuk kesenangan, gengsi dan memuaskan nafsu. Kadang kita mengerti kalau tak perlu tetapi tetap saja kita lakukan karena nafsu yang tak tertahankan. Kita kehilangan fokus orientasi hidup. Kita tak perduli lagi, apa atau siapa kata sebelum "hidup", untuk apa kita hidup dan jadi apa dan mau kemana kita setelah hidup.
Dalam case yang umum, bukankah kita diperintahkan Allah untuk fokus ibadah dalam arti yang luas dan melakukan amal shalih? Sementara justru yang kita lakukan malah yang tidak tidak, sabet daun mudalah, lirik istri orang lah, lirik jabatan orang lah dan lain lain perbuatan yang tidak termasuk kategori ibadah dan amal shalih. Dan kemudian ketika suatu musibah, cekcok rumah tangga, sakit, hutang menumpuk atau apalah namanya yang merugikan yang merupakan akibat perbuatan akibat perbuatan kita sendiri, kemudian kita mengeluh kepada suami, teman, orang tua, atau bahkan Allah Swt, seperti keluhan si pasien kepada dokter tersebut. Padahal hal tersebut karena kelakuan kita sendiri.
"Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasannya Allah sekali kali tidak menganiaya hamba hamba Nya. (Ali Imran (3):182).
Kan lucu, wong musibah yang terjadi disebabkan kelakukannya sendiri kok orang lain atau Allah Swt yang direpotkan dan dijadikan bemper. Coba kalau semua tindakan dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah , insya Allah takkan ada hal hal yang aneh aneh.
kalaupun ditimpa musibah, hal itu bukan karena akibat tingkah laku kita, tetapi insya Allah karena ujian untuk meningkatkan jenjangdan nilai kita sebagai manusia menuju insan kamil, sehingga apapun wujudnya, semua itu adalah wujud kecintaan Allah Swt kepada kita.
(sumber oase pojok kantor)
12 September 2008
Bagaimana Anda Memandang ?
- Pandangan pertama Anda terhadap lawan jenis boleh, pandangan berikutnya diikuti syetan yang menghinakan
- Pandanglah langit sejauh jauhnya dengan kesadaran, bukankah manusia itu kecil dan tidak pantas untuk sombong.
- Pandangan hidup seseorang akan memberikan tuntunan sikapnya, dan dari sikapnya dapat diketahui pandangan hidupnya.
- Pandangan baik atau buruk seseorang tentang sesuatu bukan tergantung pada matanya, tetapi pada pikiran dan hatinya
- Pandang jauh dilayangkan (seluas luasnya) pandang dekat difokuskan , begitulah seharusnya meneliti kejadian dan peristiwa
- Memandang teman atau Saudara dengan kesayangan dan kerahmatan merupakan ibadah.
07 September 2008
Sudahkah Akal Digunakan ?

- Mahkluk yang paling mulia adalah mahluk yang berakal
- Akal adalah alat untuk menerima kebenaran, otak sebagai Dewan pertimbangan Agung, dan hati sebagai Dewan Penasihat Utama
- Kaum Adam lebih mendahulukan akalnya daripada perasaannya, oleh karenanya ia suka berfikir dan bekerja
- Kaum Hawa lebih mendahulukan perasaannya daripada akalnya, oleh karenanya ia cocok untuk mendidik anak dan menata keluarga
- Ajari manusia untuk menggunakan akal agar memahami kebenaran, tetapi jangan mengajari manusia untuk mengakali kebenaran
- Orang yang tidak bisa menggunakan akal sehat adalah orang pandir ; sedangkan yang tidak mau menggunakan akal sehat adalah orang mabuk
- Orang yang tidak menggunakan akal sehat lebih rendah derajatnya daripada yang tidak punya akal
- Menghadapi sesuatu masalah jangan kehilangan akal, apalagi berubah akal
03 September 2008
Do or Die

Kalau kita benar-benar menggunakan semua potensi kita dan anternatifnya bukan lagi Do or Daze, tetapi sudah kita kondisikan sebagai Do or Die, apalagi yang menghalangi kita sukses?
Bagi perusahaan yang sedang berbenah biasanya akan muncul banyak issue, gosip, rumor dan berita-berita yang berhubungan dengan rasionalisasi, PHK. PHK belum tentu terjadi tetapi kasak kusuk telah menimbulkan kegelisahan karyawan. Tak perlu gelisah, yang perlu kita lakukan adalah jauh jauh hari sudah bersiap diri menghadapinya. Apa yang sudah kita persiapkan apabila status karyawan copot dari identitas kita?
Seorang kawan menanggapinya, saya ingin memulai, tetapi untuk memulai kan butuh modal sedang saya tak butuh modal. Bagaimana?"
Lho, memangnya kita lahir dengan membawa modal, bukankah kita lahir telanjang dan bisanya cuma menangis? Lapar menangis, ngompol menangis, kekenyangan menangis, sakit menangis, dan sekarang kita jadi karyawan bank yang cantik, pintar bersolek, jago berdebat, cerdas, gagah, ganteng, punya rumah, mobil, punya anak/ istri/ suami, teman relasi, dan sebagainya. Apakah semua itu bukan modal ? Apakah semua itu terjadi begitu saja? Pastilah semua ada prosesnya, semua itu ada tahapan tahapannya, dari bayi sampai menjadi dewasa, dari numpang orang tua sampai punya rumah sendiri, dari modal nol sampai menjadi miliarder. Dari ditangani sendiri sampai bisa punya karyawan. Sunnatullah, begitulah hukumnya.
Teman memberi contoh faktual dan mengingatkan, agar berhati hati dalam memberi saran. "Jadi orang merdeka itu tidak gampang. Banyak contoh, korban PHK atau memilih paket saat merger ternyata sengsara. Salah investasi, salah pilih usaha, dan tidak punya mental entrepreuneur karena sudah terlalu lama menjadi karyawan, sehingga yang terjadi bukannya tambah baik malah jadi pengangguran. Sementara itu karier istri tambah melejit. Terjadilah kecemburuan, mau menang sendiri, saling menegaskan peran, tak ada kebersamaan, dan akhirnya cekcok berkepanjangan, nelangsa jadinya.
Tersentak juga dengan reminder tersebut, tetapi ya begitulah. Sebagian laki-laki kadang cuma menang gaya padahal asli kemampuannya pas-pasan atau bahkan mungkin malah dibawah kemampuan sang istri. Lalu karena si istri lebih moncer kariernya, mereka laki laki yang masuk golongan ini jadi kebakaran jenggot, rewel dan bikin ulah. Begitu pula sebagian wanita, karena kariernya lebih maju lalu pongah dan kemudian merendahkan sang suami. Padahal majunya juga karena dukungan sang suami yang lebih perhatian terhadap masklah domestik rumah tangga, lebih peduli pada anak, dan lebih mandiri tanpa layanan sang istri. Runyam memang kalau maunya enak sendiri, jadilah api bertemu bensin, rumah jadi neraka. Lupa bagaimana waktu mereka saling jatuh cinta. Lupa kalau output yang dihasilkan hasil kerja team, suami, istri dan anak. Lupa bahwa rizki sebagai pasangan suami, isri bersama anak anaknya, bukan sendiri sendiri lagi. Disatu sisi tampak surut, tetapi disisi lainnya "sumbernya" malah melimpah ruah.
Kondisi-kondisi buruk tersebut, apakah telah mereka antisipasi sebelumnya? biasanya mereka lompat begitu saja atau memilih jadi terPHK tanpa persiapan sebelumnya, sehingga tidak sempat merasakan dulu bagaimana rintangan rintangan yang terjadi. Psikologis masih terkungkung dengan mental priyayi sebagai karyawan, pakai dasi, baju perlente, bangun pagi pulang sore dan tiap awal bulan berdiri didepan ATM tinggal antre. Padahal mestinya bersiap dulu, rasakan tantangannya, bagaimana mengatasinya, begitu sudah mantap baru lompat.
Model orang yang mempersiapkan dirilah yang biasanya sukses berkarya diluar profesi karyawan. Beberapa teman sukses karena sudah mempersiapkannya pada saat jadi karyawan, dan begitu sudah bisa diandalkan langsung lompat. Model seperti inilah yang biasanya membuat orang tak jadi bingung ketika kena PHK. Perubahan kondisi psikologis dari karyawan menjadi usahawan itu memang tak mudah, persiapan harus dilakukan agar tidak shock.
Tetapi Insya Allah walaupun tanpa persiapan pun bisa juga sukses, kalau kita benar-benar menggunakan semua potensi kita dan alternatifnya bukan lagi Do or Daze tetapi sudah dikondisikan Do or Die, apalagi yang menghalangi kita untuk sukses? Kondisi Do or Die ini harus kita ciptakan agar memacu adrenalin, dan membuat kita bersungguh sungguh dalam menempuhnya. Dengan demikian apabila terjadi kegagalan bisa dibedakan penyebabnya, apakah karena sebab lain ataukah karena bebal dan malasnya kita.
Kondisi psikis Do or Die, kita sendiri yang ciptakan. Semangat pantang menyerah, kita sendiri yang sematkan dalam dada. Perilaku dan sikappun kita yang menentukan. Rutinitas, pagi perpakaian lengkap dan bersepatu seperti kalau kita berangkat kerja walaupun tempat usaha kita di rumah sendiri, "pulang" sore hari, dan selama waktu jam kerja kita sungguh sungguh seperti saat kita dipacu target target saat kita jadi karyawan, setidaknya bisa menciptakan susana siap tempur. Apalagi kalau kalau ditambahi switching di otak bahwa kalau kita tak berusaha sungguh sungguh pilihan lainnya adalah mati. Insya Allah, Allah akan memberikan balasan bagi orang yang bersungguh sungguh, istiqomah (konsisten) di dalamnya.
Bukankah tukang tambal ban yang menetap di suatu tempat, tidak berpindah pindah, konsisten jam buka dan tutupnya dan melayani pelanggannya dengan baik, selalu dikunjungi pelanggannya?
Coba kalau tukang tambal ban tersebut tidak istiqomah, berpindah pindah terus lokasi dan jenis usahanya , siapa yang kenal dan tahu di lokasi tersebut ada tukang tambal ban yang bagus?
(dari buku oase di pojok kantor)
Hal ini senada dengan kata mutiara dari "AndreWongso" sbb:
"Kesuksesan bukan milik orang tertentu, kesuksesan milik Anda, milik saya dan milik siapa saja yang benar-benar menyadari, menginginkan dan memperjuangkan dengan sepenuh hati".