27 September 2008

Menjelang Pulang Kampung

Setelah makan Sahur dan sambil menunggu Imsak pukul 05.02 Wib ngak tahu kenapa kok tangan ini pengin ngetik menyapa rekans blogger. Sahur kali ini tidak seperti biasanya karena mengingat hari ini akan melakukan perjalanan panjang Pulkam maka porsinya saya tambah apalagi istri goreng ayam pop kesukaanku tambah lahap deh makannya. Setelah makan sahur tak lupa pasti minum teh hangat kesukaanku dan kali ini ditemani kue khas Aceh yang menyerupai Ikan dan rasanya manis (namanya kagak tahu) karena kue ini pemberian teman untuk oleh oleh keluarga. Bagaimana rekans makan sahurnya hari ini apa masih ngantuk atau lahap ?

25 September 2008

Persiapan Mudik

Hari lebaran tinggal sebentar lagi atau tinggal menghitung beberapa hari, masyarakat mempersiapkan dengan berbagai macam cara untuk meyambutnya disamping ibadah makin ditingkatkan dan yang tak kalah penting adalah membersihkan rumah, membuat kue kering untuk menyambut kedatangan tamu yang akan melakukan silahturahim pada hari Idul Fitri 1429 H. Begitu pula dengan keluarga saya, saat ini mempersiapkan perbekalan untuk Pulang Kampung karena tahun ini kami berencana pulang ke Kampung baik Kampung saya di Surabaya maupun Kampung Istri di Palembang. Dengan membayangkan perjalanan yang panjang dan transit antar kota dari penerbangan Banda Aceh-Medan-Jakarta-Surabaya-Jakarta-Palembang-Jakarta-Banda Aceh membuat istri saya mual terlebih dahulu sebelum berangkat, hal ini berbeda dengan anak saya yang selalu menikmati perjalanan yang panjang (mungkin karena masih dibawah 5 Tahun jadi bawaannya sangat riang). Dan kalau ditanya apa saja yang akan dilakukan di Kampung Halaman pada saat liburan nanti sudah banyak daftarnya mulai dari Silahturahim dg keluarga, Reuni SMP(25 tahun kagak ketemu), ingin makan tahu campur, tahu tek , nonton bioskop "Laskar Pelangi", ke Kebun Binatang, makan Empek empek ,Pindang Patin, Tempoyak, Martabak HAR dan macam macamlah. Untuk menambah bekal makanya saya ikutan jualan produk Telkom yaitu Flexi (lihat gaya saya he he he).
Akhirnya Saya mohon pamit dan mohon maaf kepada rekan-rekan karena akan meninggalkan Banda Aceh dari tgl 27 Sept s/d 19 Oktober, dan bila waktu memungkinkan nanti di Surabaya dan Palembang dapat ngeblog lagi. Selamat Pulang Kampung bagi rekans yang tahun ini juga Pulkam dan Mohon dibukakan pintu maaf untuk kami sekeluarga.

20 September 2008

Judulue Opo

Sejak awal aku merindukanmu
Aku mempersiapkan diri untuk meyambut belaian kasih sayang Mu
Kumulai membersihkan jasad ini
Akankah Kau dapat menerimaku ?
Oh ternyata tidak cukup hanya dengan membersihkan jasad ini

Aku mulai merenung, ternyata banyak benang hitam melilit seluruh tubuh ini
Pantas Aku hanya samar samar melihat sekelilingku , tak mendengar seruan Mu
Kepekaanku sebagai insan mulai berkurang
Aku tertunduk pasrah dan serahkan jiwa ini hanya untuk Mu ?

Akankah aku diterima ?



Mohon kritik sobat,

Jangan Takut - Jangan Pernah Menyesal

Di suatu desa yang terpencil, ada seorang pemuda yang ingin pergi mengembara ke suatu negeri untuk mengubah nasib. Menjelang berangkat, muncul di hatinya perasaan takut, cemas, dan ragu. Untuk memantapkan tekadnya, pergilah sang pemuda ini menghadap sesepuh desa untuk memohon restu, sekaligus berpamitan. Mendengar niat pemuda ini sesepuh desa dengan gembira berkata : " Anakku, Aku akan memberimu nasehat , dan hari ini aku berikan setengahnya dulu sebagai bekal kepergianmu." Lalu sang sesepuh menuliskan tiga kata yaitu Bu Yao Pa yang artinya Jangan Takut!

Waktu terus berjalan, beberapa tahun sudah dilalui berbagai macam suka dan duka telah dijalani sang pemuda tadi. Dengan modal kata bijak "Jangan Takut" segala peluang dan tantangan dihadapinya dengan keyakinan dan keberanian. Dengan sikap mental yang luar biasa akhirnya ia berhasil mengubah nasibnya. Pemuda itu kini menjadi seorang yang sukses.

Namun dalam segala keberhasilannya, ia merasa ada sesuatu yang kurang sempurna dan bingung mengapa tidak dapat memecahkan permasalahan tersebut. Disaat pikirannya kalut dia teringat akan sesepuh desa, bukankah sesepuh desa tsb. masih menyisakan separuh kata bijak lagi yang akan diberikan kepadanya. Maka dia memutuskan untuk berangkat menemui sesepuh desanya, dan ternyata sesepuh desanya telah tiada namun dia telah mempersiapkan memberikan surat wasiat kepadanya. Sesampainya di rumah surat wasiat tsb. dibuka yang bersisi kata bijak Bu Hou Hui yang artinya Jangan Pernah Menyesal, dan setelah membacanya barulah pemuda itu menyadarinya bahwa segala sesuatu yang terjadi jangan pernah disesali tetapi dengan bekal semangat dan ilmu yang tinggi berusaha untuk meyongsong tantangan kedepan.

Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila Anda berfikir bisa, segeralah lakukan.
(Sumber Wisdom success)

19 September 2008

Jempalithan


Dalam hidup kita sering jempalithan, melakukan hal-hal yang tak perlu, sia sia, bukan kebutuhan tetapi hanya untuk kesenangan, gengsi, dan memuaskan nafsu. Kita mengerti kalau tak perlu tetapi tetap saja kita lakukan karena nafsu yang tak tertahankan. Kita kehilangan fokus orientasi hidup, tak peduli lagi, apa dan siapa kita sebelum hidup, untuk apa kita hidup, jadi apa dan mau kemana kita setelah hidup.


Suatu saat sepintas mendengar obrolan singkat tentang hikmah kehidupan dari Emha Ainun Najib di sebuah stasiun radio. Dia bercerita tentang seorang pasien yang datang ke seorang dokter untuk konsultasi penyakitnya. "Apa keluhannya Pak ......?" tanya si dokter
"Begini dok ......... supaya dokter tahu tentang penyakit saya, saya perlu ruangan yang cukup untuk bergerak.... Meja, kursi perlu saya pinggirkan terlebih dahulu, dok ..... Supaya leluasa, dan pak dokter bisa mengamatinya dari pojok sana, "jawabnya.
Mulailah si pasien lompat sana lompat sini, lelah melompat lompat dilanjutkan dengan duduk seperti sedang yoga, tangan merengkuh lutut kepala masuk ke selangkangan, tangan dan kaki ditekuk sedemikian rupa sehinga badan seperti bola dsn kemudian menggelinding kesana kemari. Setelah lelah beraksi, dihampirinya si dokter.
Setelah melakukan tadi ini lho dok, badan saya ini terasa mau patah dan linu semua," keluhnya ke dokter tanpa merasa salah. "Apa sampeyan pemain sirkus atau pemain debus ?" tanya dokter. "bukan dok, saya ini orang biasa saja, cuma ya itu kalau habis bergerak seperti tadi badan saya pegel linu semua," jawabnya masih dengan ekspresi tanpa rasa salah.

Disaat yang lain seorang teman kedatangan tamu seorang manager sebuah bank yang berkeluh kesah minta bantuan. " Begini Mas, saya ada masalah, saya dililit hutang kartu kredit," keluhnya memelas. Lho kenapa bisa begitu ? Sampeyan khan orang bank bukankah seharusnya lebih pintar berhitung tentang cash flow dan likuiditas?" tanya sang teman tidak mengerti. Ya begitulah Mas, saya dan istri terlalu konsumtif dan termakan gengsi, sedikit sedikit nggesek kartu". Gaya hidup tak sesuai dengan gaji .... besar pasak dari pada tiang. Aset sudah habis terjual untuk nglunasi hutang. Rumah, mobil ludes"

Semua ludes, tetapi tungakkan hutang masih besar, tolonglah mas, jawabnya sambil menghela nafas panjang. Teman saya ini heran dan tak habis pikir mendengar keluh kesah tamunya. bagaimana mungkin tamunya dapat hidup seperti itu. Punya banyak kartu kredit dari banyak bank dengan limit gold card dan semuanya overlimit. Belum lagi hutang lainnya.

Disaat saat yang lain mungkin sering kita lakukan saat berbelanja di mall. barang kebutuhan yang seharusnya dibeli, mungkin hanya pakaian pesanan sang suami/istri, tetapi apa lacur ternyata diambil pula barang barang yang lain yang tidak perlu, yang bukan merupakan kebutuhan dan harganya jauh lebih mahal dari barang yang seharusnya dibeli.

Dalam kehidupan ini tampaknya kita serinh bertindak seperti pasien dokter tersebut. Bergerak ngak karuan, melakukan hal hal yang tidak perlu, sia sia bukan kebutuhan tetapi hanya untuk kesenangan, gengsi dan memuaskan nafsu. Kadang kita mengerti kalau tak perlu tetapi tetap saja kita lakukan karena nafsu yang tak tertahankan. Kita kehilangan fokus orientasi hidup. Kita tak perduli lagi, apa atau siapa kata sebelum "hidup", untuk apa kita hidup dan jadi apa dan mau kemana kita setelah hidup.

Dalam case yang umum, bukankah kita diperintahkan Allah untuk fokus ibadah dalam arti yang luas dan melakukan amal shalih? Sementara justru yang kita lakukan malah yang tidak tidak, sabet daun mudalah, lirik istri orang lah, lirik jabatan orang lah dan lain lain perbuatan yang tidak termasuk kategori ibadah dan amal shalih. Dan kemudian ketika suatu musibah, cekcok rumah tangga, sakit, hutang menumpuk atau apalah namanya yang merugikan yang merupakan akibat perbuatan akibat perbuatan kita sendiri, kemudian kita mengeluh kepada suami, teman, orang tua, atau bahkan Allah Swt, seperti keluhan si pasien kepada dokter tersebut. Padahal hal tersebut karena kelakuan kita sendiri.

"Azab yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasannya Allah sekali kali tidak menganiaya hamba hamba Nya. (Ali Imran (3):182).

Kan lucu, wong musibah yang terjadi disebabkan kelakukannya sendiri kok orang lain atau Allah Swt yang direpotkan dan dijadikan bemper. Coba kalau semua tindakan dilakukan dalam rangka ibadah kepada Allah , insya Allah takkan ada hal hal yang aneh aneh.

kalaupun ditimpa musibah, hal itu bukan karena akibat tingkah laku kita, tetapi insya Allah karena ujian untuk meningkatkan jenjangdan nilai kita sebagai manusia menuju insan kamil, sehingga apapun wujudnya, semua itu adalah wujud kecintaan Allah Swt kepada kita.

(sumber oase pojok kantor)

12 September 2008

Bagaimana Anda Memandang ?



  • Pandangan pertama Anda terhadap lawan jenis boleh, pandangan berikutnya diikuti syetan yang menghinakan
  • Pandanglah langit sejauh jauhnya dengan kesadaran, bukankah manusia itu kecil dan tidak pantas untuk sombong.
  • Pandangan hidup seseorang akan memberikan tuntunan sikapnya, dan dari sikapnya dapat diketahui pandangan hidupnya.
  • Pandangan baik atau buruk seseorang tentang sesuatu bukan tergantung pada matanya, tetapi pada pikiran dan hatinya
  • Pandang jauh dilayangkan (seluas luasnya) pandang dekat difokuskan , begitulah seharusnya meneliti kejadian dan peristiwa
  • Memandang teman atau Saudara dengan kesayangan dan kerahmatan merupakan ibadah.
(Sumber : mutiara hikmah)

Berkumpul dengan Keluarga